KERAJAAN GOWA-TALLO, POLITIK, SOSIAL BUDAYA, DAN KEHIDUPAN EKONOMI
a.
Kehidupan Politik
Sebetulnya ada banyak
kerajaan di sekitar Makassar. Misalnya Gowa, Tallo, Bone, Soppeng, Wajo, dan
Sidenreng. Namun, hanya Gowa dan Tallo yang menggabungkan diri menjadi satu
kekuatan dengan nama Makassar. Raja Makassar yang pertama masuk Islam adalah Karaeng
Matoaya dengan gelar Sultan Alaudin (1593– 1639). Penguasa selanjutnya adalah
Malekul Said (1639–1653), berhasil membuat Kerajaan Makassar menjadi kerajaan
maritim. Puncak kegemilangan Kerajaan Makassar terjadi saat Sultan Hasanuddin
memegang tampuk kekuasaan. Di tangannya, Kerajaan Makassar berkembang menjadi
sebuah kerajaan dengan jaringan perdagangan yang kuat dan pengaruh yang luas.
Sultan Hasanuddin adalah seorang raja yang antimonopoli, sehingga ketika
Belanda datang ingin menguasai jaringan perdagangan yang telah lama terbentuk,
ia menentang dengan keras. Keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan
diIndonesia bagian timur jelas tidak bisa diterima oleh sultan. Konflik terjadi
dan Hasanuddin berhasil menghalau pasukan VOC dari kawasan Maluku. Namun, upaya
Belanda untuk menguasai jaringan perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur
itu tidak pernah surut. Dengan siasat adu domba, Belanda berhasil memanfaatkan
Aru Palaka (Raja Bone) untuk memasukkan pengaruhnya. Saat itu, Kerajaan Bone
masuk dalam kekuasaan Kerajaan Makassar. Akhirnya, pada tahun 1667 Sultan
Hasanuddin harus menandatangani Perjanjian Bongaya dengan Belanda. Isi
perjanjian itu antara lain VOC diperbolehkan memonopoli perdagangan dengan
mendirikan benteng, Makassar melepaskan wilayah-wilayah kekuasaannya, dan Aru
Palaka dirajakan di Bone.

b.
Kehidupan Sosial Budaya
Sudah sejak lama suku
bangsa Bugis dikenal sebagai bangsa pelaut yang ulung. Salah satu hasil
budayanya yang mengagumkan adalah perahu pinisi. Dengan menggunakan
perahu itu, mereka mengarungi lautan lepas dan membangun jaringan pelayaran dan
perdagangan antarpulau bahkan antarkawasan. Para penguasa Gowa sudah sejak lama
menerapkan prinsip mare liberum atau laut bebas. Meskipun begitu, mereka sangat
terikat dengan dengan norma adat yang ketat. Norma yang dianut masyarakat
Makassar biasa disebut pangadakkang bersumber dari ajaran agama Islam.
Bahkan hingga kini, masyarakat Makassar terkenal dengan penghormatannya yang
kuat pada norma-norma adat. Struktur sosial masyarakat Makassar meliputi
golongan bangsawan yang disebut karaeng, rakyat kebanyakan yang disebut
to maradeka dan hamba sahaya yang disebut ata.
c.
Kehidupan Ekonomi
Pada masa pemerintahan Sultan
Hasanuddin, Kerajaan Makassar menjadi kerajaan maritim yang besar dan menjelma
menjadi pusat perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur. Ada beberapa
faktor yang melatarbelakanginya: Malaka jatuh ke tangan Portugis, beralihnya
para pedagang, mundurnya peran Jawa, dan letaknya yang strategis. Meskipun
harus melayani kepentingan beragam pedagang yang berasal dari berbagai bangsa,
namun Kerajaan Makassar tetap mampu mengatur aktivitas perdagangan tersebut
secara tertib dan adil.

Comments
Post a Comment